Skip to content

Rekayasa Menjerat Ketua KPK Antasari Azhar, Untuk Apa?

11/12/2009

Panggung pertunjukan selalu terbuka bagi Antasari Azhar. Dia dikecam sekaligus disanjung. Ketika menapaki tangga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dia dicibir dan diragukan. Tetapi tatkala mulai menangkap dan menggiring banyak koruptor ke bui, dia dielukan dan menjadi idola. Tetapi masa jaya Antasari tidak bertahan lama.

Dia terjerembap dalam perkara pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen. Dia dituduh menjadi aktor intelektual kasus pembunuhan itu. Posisinya sebagai Ketua KPK dicopot. Dia dijebloskan ke sel dan ditahan di tahanan Polda Metro Jaya sejak enam bulan silam. Kasus Antasari tertelan semarak skandal dugaan rekayasa kriminalisasi dua Wakil Ketua nonaktif KPK Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah. Polisi dituding telah merekayasa kasus Bibit-Chandra. Bahkan polisi mendapat julukan baru sebagai penulis skenario yang piawai.

Nama Antasari kembali melambung dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Selasa (10/11). Juga nama polisi kembali tersandung sebagai pembuat rekayasa dan pengarang skenario. Publik terkesima. Polisi kembali diposisikan sebagai perekayasa kasus Antasari Azhar. Bukan sembarang orang yang membuka adanya skenario penggiringan Antasari menjadi pesakitan. Bukan pula sembarang sosok yang mengaku ada rekayasa membawa Antasari ke tahanan.

Antasari Menangis Mendengar Kesaksian WW

Pengakuan yang menggemparkan itu datang dari seorang perwira polisi berpangkat komisaris besar. Dialah Wiliardi Wizard, mantan Kapolres Jakarta Selatan. Dia membongkar skandal rekayasa kasus Antasari di forum terhormat; pengadilan. Antasari terharu dan menangis. Pengacara keheranan karena pengakuan itu datang dari saksi yang diajukan jaksa. Dan jaksa? Jaksa pasti sesak napas.

Wiliardi seharusnya memperkuat tuduhan jaksa bahwa Antasarilah aktor di balik kasus pembunuhan itu. Keterangan saksi yang dipercaya adalah keterangan yang diberikan di depan persidangan. Bukan keterangan dalam berita acara pemeriksaan (BAP).

Hal itu jelas-jelas diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. Pada Pasal 185 ayat (1) disebutkan, keterangan saksi sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan di sidang pengadilan. Jadi, hakim, jaksa, dan pengacara memegang keterangan saksi yang diberi di depan persidangan.

Saksi yang mencabut BAP di depan persidangan tidak boleh dipandang sebagai pembohong. Tidak hanya hakim yang bertugas mencari keadilan, tetapi juga jaksa dan pengacara mengagungkan keadilan, bukan mencari kemenangan. Kesaksian Wiliardi Wizard telah meruntuhkan bangunan skenario menjerat Antasari sebagai aktor intelektual kasus pembunuhan. Kesaksian Wiliardi mempertontonkan bahwa sedang berkembang peradilan sesat di Tanah Air.

Kita mencoba percaya bahwa kegemaran menyusun skenario dan membuat rekayasa sebuah perkara hanyalah ulah oknum polisi yang mencari jalan pintas. Karena itu harus ditindak. Tetapi jika pimpinan Polri mendiamkannya, tuduhan itu beralih menjadi kehendak institusi. Kalau sekarang kita dihadapkan dengan panggung saling bantah di antara mereka yang bertikai, pertanyaannya, siapa sesungguhnya yang berbohong? (Editorial Media Indonesia)

Andai WW Benar, Untuk Apa Polri Rekayasa?

Pengakuan saksi Wiliardi Wizar (WW) dalam perkara tuduhan perencanaan pembunuhan yang dilakukan mantan Ketua KPK Antasari Azhar sungguh seperti petir di siang hari bolong. Tuduhan tersebut diakui WW sebagai rekayasa petinggi Polri untuk menjebloskan Antasari ke dalam penjara.

Memang pengakuan tersebut masih akan dicek silang dengan kesaksian lain dan juga barang bukti yang dimiliki jaksa penuntut umum. Namun sebagai seorang saksi kunci dan selama ini dianggap sebagai bagian dari pelaksana perencanaan pembunuhan terhadap Nasrudin Zulkarnaen, pengakuan Williardi bisa mengubah segalanya.

Setidaknya, dugaan yang muncul ketika pertama kali kasus ini mencuat seperti mendapatkan pembenaran. Pada mulanya sempat muncul dugaan bahwa tuduhan yang dijatuhkan kepada Antasari merupakan bagian dari upaya pelemahan KPK karena ketika itu KPK akan mulai menyidik korupsi pengadaan komputer yang terjadi di Komisi Pemilihan Umum. Belum lagi rencana Antasari Azhar mengusut aliran dana kampanye Pileg dan Pilpres 2009 silam.

Disisi lain, Antasari sedang menghadapi persoalan dengan Nasrudin. Antasari dianggap mempunyai affair dengan Rhani Jualiani yang ternyata istri siri Nasrudin. Kejadian itu dipergunakan Nasrudin untuk mem-blackmail Antasari. Atas kejadian tersebut, Antasari meminta perlindungan dari polisi. Bahkan ia meminta langsung kepada Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri untuk dilindungi. Ternyata ceritanya kemudian berkembang menjadi rencana pembunuhan dan Antasari dianggap sebagai otak utama perencanaan pembunuhan terhadap Nasrudin.

Seperti dikatakan Ketua Tim 8 Adnan Buyung Nasution, kita berharap jaksa memiliki bukti lain bahwa kesaksian Williardi tidak benar. Tetapi jika jaksa tidak menemukan bukti lain, maka ini sebuah tragedi bagi institusi kepolisian. Betapa polisi begitu mudah membuat rekayasa untuk menjatuhkan seseorang. Kalau ini adalah sebuah rekayasa, untuk kepentingan siapa polisi bertindak? Apakah ini untuk kepentingan polisi sendiri atau untuk kepentingan “pihak lain “yang terganggu oleh gebrakan KPK?

SungaiPakning
3 Komentar leave one →
  1. 11/12/2009 5:49 am

    yang jelas utk kepentingan setan dan nafsu kekuasaan.

    • 11/12/2009 11:08 pm

      Jaksa dan Polri adalah Pemerintah (Presiden), itu aja kok repot.

  2. 11/19/2009 8:05 am

    halo, senang bertemu Anda melalui blog ini saya Agus Suhanto, tulisan yang oke🙂 … salam kenal yaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: