Skip to content

Indonesia Butuh Teknologi Pertanian Tahan Kering

09/04/2009

Tahun 2005, Amerika Serikat (New Orleans) diporakporandakan oleh badai Katrina. Lebih dari 1300 orang tewas, puluhan ribu orang tak terselamatkan, terutama kalangan miskin yang dalam beberapa detik harus melihat rumah mereka ditelan gelombang raksasa. Tahun itu, 15 badai besar menghantam wilayah Karibia dan Amerika Serikat bagian selatan. Dan akibatnya, popularitas Presiden Bush ambruk.

Berdasarkan perhitungan metereologi  badai yang cukup besar akan kembali terjadi pada tahun 2009 – 2010 ini. Untungnya tahun 2009 ini, musim badai tidak akan sebahaya itu. National Oceanic and Atmospheric Administration yang terjadi akan lebih kecil karena suhu air laut yang sedikit lebih rendah. Kalau air laut bersuhu panas, di atas 26 derajat Celcius, maka itu merupakan sumber badai terpenting. Makin banyak air laut menguap dan disedot oleh badai tropis, makin besar pula badai yang tercipta karenanya.

**************

Pada tahun 2009 akhir ini, Indonesia akan mulai dihantam badai El-Nino hingga tahun 2010. Badai El Nino terjadi kareana air di Samudra Atlantik relatif dingin, sedangkan suhu air Samudara Pasifik lebih tinggi. Kenaikan temperatur suhu Atlantik ini akan menyebabkan perubahan iklim yang akan berdampak pada kemarau berkepanjangan di Indonesia. Ini menjadi ancaman masyarakat Indonesia terutama para petani. Kekeringan!

Kekeringan akan menjadi masalah terbesar bagi petani karena para petani Indonesia masih sangat bergantung pada ‘air’ alam (musim penghujan). Air menjadi salah satu faktor penting pada tanaman. Secara umum, kekurangan air pada tanaman akan menyebabkan produktivitas tanaman tersebut menurun, bahkan bisa menyebabkan kematian pada tumbuhan tersebut. Bencana kekeringan ini akan semakin parah tatkala telah banyak lahan serapan air dibabat habis, hutan-hutan gundul.

Reboisasi merupakan langkah penting dalam skala penanganan bencana kekeringan secara global di Indonesia. Secara spesifik, terutama untuk para petani, harus melakukan beberapa upaya penanganan. Salah satu solusi kekeringan adalah membangun bendungan dan sistem irigasi yang tepat, namun cara ini memakan biaya yang besar. Bercermin dari negara-negara lain yang miskin air namun berhasil dalam pertanian, ternyata ada cara lain untuk mengatasi hal ini. Salah satunya adalah dengan rekayasa genetika tanaman. Dengan rekayasa genetika, kita mampu menghasilkan benih tanamam yang tahan air.

************

Banyak negara asing telah mengembangkan teknik-teknik penanaman dan peningkatan kualitas tanaman pangan yang lebih tahan air. Salah contohnya adalah negara Maroko. Maroko merupakan negara pengekspor berbagai hortikultura ke Eropa. Padala, Maroko merupakan salah satu negara yang ‘cukup kering’ dengan curah hujan hanya 200-300 mm per tahun. Disamping itu, Maroko juga memproduksi sereal khusunya gandum di lahan seluas 5 juta hektar. Selain Maroko, Yordania yang memiliki tanah tandus berpasir juga mampu memproduksi serta mengekspor produk-produk pertanian hortikultura dan minyak zaitun.

Menghadapi badai El Nino ini, pemerintah, masyarakat dan peneliti harus bekerja sama. Pemerintah mesti mensosialisaikan tanaman apa saja yang tahan pada kondisi kurang air, sementara pada saat yang sama para peneliti terus melakukan penelitian terbaru untuk memproduksi benih tanaman tahan air. Dalam hal ini, masyarakat hendaknya memperhitungkan faktor perubahan cuaca yang terjadi secara mendadak ini, dan untuk sementara memilih benih tanaman yang tahan perubahan cuaca ekstrim.

Selain kekeringan yang berpanjangan, El Nino juga menyebabkan hujan secara mendadak. Daerah tertentu akan mengalami tingkat asam di udara yang relatif tinggi, sebaliknya kelembaban udara akan turun. Untuk menghadapi ini, dibutuhkan mencari varietas-varietas tanaman yang tahan pada garam atau salinitas dan juga lahan kering.

Dan semoga saja, badai El-Nino dapat kita lalui dan hadapi dengan persiapan yang matang untuk mengurangi efek yang besar.

@sungaipakning

One Comment leave one →
  1. 10/26/2009 11:30 am

    “MENATAP MASA DEPAN PERTANIAN INDONESIA DALAM RANGKA MEWUJUDKAN KEDAULATAN PANGAN SERTA KEMAKMURAN PROFESI PETANI”

    Sejarah pertanian di Indonesia secara intensif telah dimulai kurang lebih semenjak tahun 1969 pada saat dimulainya program intesifikasi massal (INMAS) untuk petani sebagai dampak revolusi hijau di tingkat dunia. Pada saat tahun 1969 para petani mulai diperkenalkan dengan berbagai jenis pupuk buatan yang bersifat kimia disertai dengan obat-obatan pembasmi hama penyakit dan gulma (Pestisida dan Herbisida).
    Dari sektor pemumpukan dari penggunaan pupuk kimia atau yang lebih dikenal dengan anorganik disertai dengan paket-paket lainnya yang dikenal dengan nama Panca Usaha Tani mengakibatkan peningkatan produktivitas tanaman yang cukup tinggi dibandingkan kondisi sebelumnya sehingga Indonesia dapat mencapaim swasembada pangan pada tahun 1986 dan mendapat penghargaan dari organisasi pangan dunia di PBB yaitu FAO.
    Namun peralihan dalam budaya bertani dari penggunaan pupuk organik (pupuk kandang, kompos, dll) ke penggunaan pupuk kimia dalam jangka waktu yang relatif panjang hingga saat ini telah menimbulkan dampak samping yaitu mengakibatkan tanah-tanah pertanian di Inonesia menjadi semakin keras sehingga menurunkan produktivitasnnya. Hal ini bukan dikarenakan hilangnya tanah lapisan atas (Top Soil) melainkan disebabkan oleh penumpukan sisa atau residu pupuk kumia dalam tanah yang mengakibatkan tanah menjadi sulit terurai. Hal ini disebabkan salah satu sifat bahan kimia adalah relatif sulit terurai atau hancur dibandingkan dengan bahan organik. Jika tanah semakin keras, maka akan mengakibatkan tanaman akan semakin sulit menyerap pupuk/unsur hara tanah dan untuk menghasilkan panen yang sama dengan hasil panen yang sebelumnya diperlukan dosis pupuk lebih tinggi. Hal inilah yang menyebabkan mengapa dosis pupuk semakin lama semakin tinggi. Selain itu dengan semakin kerasnya tanah, maka proses penyebaran akar dan aerasi (pernafasan) akar akan terganggu yang berakibat pertumbuhan dan kemampuan produksi tanaman akan semakin berkurang. Selain masalah pengerasan tanah akibat penggunaan pupuk kimia masalah yang patut di perhatikan di Indonesia adalah adanya indikasi proses pemiskinan atau pengurangan kandungan 10 jenis unsur hara meliputi sebagian unsur hara makro yaitu Ca, S dan Mg (3 unsur) serta unsur hara mikro yaitu Fe, Na, Zn, Cu, Mn, B dan CL (7 jenis unsur hara). Seperti yang diketahzui sazazt ini (Jornal ilmiazh soil science, 1998) dari sekian banyak unsur yang ada di alam, semua jenis tanaman membutuhkan mutlak (harus tersedia/tidak boleh tidak 13 macam unsur hara untuk keperluan proses pertumbuhan dan perkembangannya sering dikenal dengan nama unsur hara essensial. Unsur hara ini diperlukan dalam jumlah yang berbeda satu sama lain yang secara garis besar dibedakan menjadi unsur hara makro (6 jenis) yang dibutuhkan dalam jumlah lebih besar (unsur N,P,K,Ca,S dan Mg) dan unsur hara mikro (7jenis) yang dibutuhkan lebih sedikit (Unsur Fe,Na,Zn,Mn,B,Cu dan Cl). Walaupun berbeda dalam jumlah kebutuhannya namun dalam fungsi pada tanaman masing-masing unsur sama pentingnya dan tidak bisa mengalahkan atau menggantikan satu sama lainnya. Dalam hal ini masing-masing unsur hara mempunyai fungsi dan peran khusus tersendiri terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sehingga jika terjadi kekurangan satu jenis unsur hara saja akan mengakibatkan tidak optimalnya pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Jadi ke 13 unsur hara tresebut jika pada manusia ibarat menu makan 4 sehat 5 sempurna yang masing-masing mempunyai peran sendiri-sendiri.

    Pertanian di Indonesia dewasa ini lebih ditekankan kepada intensifikasi lahan dan diversifikasi komoditas tanaman mengingat ekstensifikasi lahan sudah kecil kemungkinannya. Menyorot program intensifikasi lahan, pemerintah melalui Depatemen Pertanian dan dinas instansi terkait dengan segala daya upaya berusaha meningkatkan kemampuan produksi lahan pertanian melalui banyak cara, antara lain: pengadaan bibit unggul, penyediaan pupuk dan pestisida, pelatihan dan penyuluhan petani, dsb.

    Namun demikian banyak kendala masih kita hadapi diantaranya kecepatan daya adaptasi petani kita terhadap teknologi pertanian terbaru masih lemah. Tidak mudah untuk mengajak, mengarahkan dan meyakinkan mereka untuk menjalankan suatu teknik baru. Hal ini bisa dimaklumi mengingat latar belakang kebanyakan petani kita dan juga petani serba takut cara-cara baru yang dikampanyekan nantinya menemui kegagalan. Mereka tidak sanggup menanggung kerugian yang ditimbulkannya.

    Pandhu Subur Persada hadir untuk menawarkan sebuah solusi bagi para petani dan dunia pertanian secara luas melalui produk pupuk cair lengkap Super Power yang mampu mendongkrak potensi optimal tanaman apapun untuk berproduksi.

    Pandhu Subur Persada dengan bersungguh-sungguh ingin mendedikasikan produk ini bagi para petani di bumi persada Indonesia. Harapan dan semangat kami adalah segera terwujudnya kedaulatan pangan di negara kita tercinta ini sehingga tak banyak lagi rakyat yang kelaparan. Sekaligus mengangkat harkat dan kepercayaan diri para petani kita yang selama ini seakan-akan termarjinalkan secara status sosialnya.
    Pupuk Organik cair lengkap Super Power mengandung 13 macam unsur hara esensial yang sangat dibutuhkan oleh tanaman dan hingga 77 macam unsur lainnya yang tidak terdapat pada pupuk kimia, mengingat pupuk organik Super Power mdiformulasikan dari bahan-bahan dasar alami 100% organik terbaik sehingga aman bagi tanaman, ternak maupun manusia.
    Komposisi unsur-unsurnya diramu begitu cermat dan tepat sehingga benar-benar sesuai dengan kebutuhan segala jenis tanaman didukung dengan petunjuk pemakaian yang ringkas dan aplikatif.
    Bau khas dari pupuk organik lengkap Super Power yang tiada duanya, kepekatan istimewa sebagai penanda kandungan yang kaya serta daya larut seketika menunjukkan kematangan dan kesempurnaan sebuah formula pupuk cair hasil karya tangan-tangan ahli putra bangsa yang sulit ditemukan bandingannya.

    9 Keunggulan Pupuk Organik Cair Lengkap “Super Power”

    1. Mampu memperbaiki kesuburan fisik tanah serta mampu memacu aktifitas mikroorganisme tanah melalui kandungan mikroba probiotik.
    2. Mampu menghancurkan residu pupuk kimia yang tersisa di dalam tanah karena mengandung asam humat dan asam vulvat dari golongan fulvena.
    3. Mempercepat pertumbuhan generatif tanaman serta mengurangi kerontokan bunga dan buah berkat kandungan hormon auxin, gibreriline dan citocynine.
    4. Mengandung polifenol konsentrasi tinggi sehingga mampu meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit.
    5. Mampu terserap dalam waktu cepat oleh tanaman karena unsur haranya sudah dalam bentuk ion.
    6. Merangsang pertumbuhan akar, memperkuat akar dan bantan serta mempercepat perkecambahan biji.
    7. Menyediakan semua kebutuhan unsur hara makro dan mikro lengkap bagi tanaman.
    8. Mengurangi jumlah penggunaan pupuk NPK kimia (Urea, SP-36, dan KCL) sebesar 25% s/d 50%.
    9. Meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi tanaman antara 15% s/d 100%, kualitas rasa, warna, aroma dan daya penyimpanan sekaligus memperpanjang masa produktif tanaman yang tidak habis satu kali panen.

    Kandungan Unsur Hara
    N ± 5% Zn ± 10,5 ppm
    P2O5 ± 1.4% Cu ± 14,8 ppm
    K2O ± 2.15% Mn ± 22,5 ppm
    Ca ± 0.75% B ± 10,1 ppm Mg ± 0.65% Cl ± 1,2 ppm
    Fe ± 187.6 ppm S ± 8,8 ppm
    Na ± 45.7 ppm

    Petunjuk Penggunaan
    Pupuk Organik Cair Lengkap Super Power

    Jenis Tanaman
    Tanaman pangan
    (padi, jagung, kedelai,dsb) interval waktu 7– 10 hari sekali dengan dosis 4 tutup/tangki semprot

    Sayur-sayuran daun
    (sawi, kubis, selada, seledri, bayam, kangkung, kemangi, kailan, bawang pre, asparagus, dsb) interval waktu 5 – 7 hari sekali dengan dosis 4 tutup/tangki semprot

    Sayur-sayuran dan buah
    (semangka, melon, cabe, tomat, kacang panjang, bawang, brokoli, ketimun, pare, dsb)interval waktu 7 – 10 hari sekali dengan dosis 4 tutup/tangki semprot

    Tanaman perkebunan
    (mangga, jeruk, apel, durian, anggur, kopi, kakao, sawit, kapas, lada, pepaya, dsb) waktu aplikasi 1. Sebelum berbunga, 2. Saat buah muda, 3. Setelah pangkas
    interval waktu Tiap 2 – 3 bulan dengan dosis 5 tutup/tangki semprot

    Tebu 1 bulan
    2 bulan
    3 bulan 4 tutup/tangki semprot

    Tembakau interval waktu 7 – 10 hari sekali dengan dosis 3 tutup/tangki semprot

    Pembenihan/pembibitan 1 – 2 jam1 tutup/liter air rendam

    *Boleh disiramkan pada tanaman yang diperlukan atau tanaman yang tidak memungkinkan untuk disemprot

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: