Skip to content

Hutan Giam Siak Kecil – Bukit Batu Jadi Cagar Biosfer Dunia

07/27/2009

Sidang pleno International Co-ordinating Councul of the Man and the Biosphere –  United Nations Educational,

Kantung Semar (periuk kero) - Nephentes merupakan salah satu jenis tumbuhan yang hidup di hutan tropis Bukit Batu

Kantung Semar (periuk kero) - Nephentes merupakan salah satu jenis tumbuhan yang hidup di hutan tropis Bukit Batu

Scientific and Cultural Organization (MABlICC-UNESCO), tanggal 25-29 Mei 2009 di Jeju, Korea Selatan menetapkan Giam Siak Kecil-Bukit Batu – Riau sebagai Cagar Biosfer Dunia. Dan Hutan Giam Siak Kecil – Bukit Batu (GSK-BB) menjadi Cagar Biosfer ke-7 di Indonesia. Enam cagar biosfer lain adalah Cagar Biosfer Cibodas di Jawa Barat, Tanjung Puting di Kalimantan Tengah, Lore Lindu di Sulawesi Tengah, dan Pulau Komodo di Nusa Tenggara Timur, yang ditetapkan pada tahun 1977. Sedangkan Cagar Biosfer Gunung Leuser di DI Aceh, dan Pulau Siberut di Sumatera Barat, ditetapkan pada tahun 1981. Jadi, masuknya GSK-BB sebagai cagar biosfer dunia merupakan hal istimewa karena terjadi setelah dalam kurun waktu yang cukup lama yaitu 28 tahun, Bangsa Indonesia baru menambah satu lagi Cagar Biosfer.

Menurut Ketua Komite Nasional Man and the Biosphere Indonesia yang juga Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Prof Dr Endang Sukara, di Jakarta, Minggu (31/5), diterimanya usulan Indonesia ini menjadi lebih istimewa karena penetapan cagar biosfer ini awalnya justru diinisiasi oleh sektor industri kehutanan yakni PT Sinar Mas Forestry (SMF).

“Usulan pembangunan cagar biosfer yang diajukan Sinar Mas ini adalah pertama kalinya di dunia datang dari sektor industri. Kami berharap kepedulian ini dapat terus berjalan dengan konsisten sekaligus menjadi contoh serta awal yang baik bagi kalangan industri untuk selalu peduli pada pelestarian keanekaragaman hayati,” katanya.

Dikatakannya, keberadaan Cagar Biosfer GSK-BB sebagai satu dari 553 cagar biosfer yang tersebar di 124 negara dan tergabung dalam “UNESCO`s World Network of Biosphere Reserves (WNBR)” menjadi begitu penting dan berharga bagi Indonesia.

Sementara itu, Environment Director Sinar Mas Forestry (SMF), Canecio P. Munoz, mengatakan lingkungan yang lestari adalah kepentingan seluruh pihak, termasuk pula sektor industri. Bagi Sinar Mas, menurut dia, lingkungan yang terpelihara adalah salah satu tiang penyangga untuk dapat beroperasi secara berkelanjutan dan membawa manfaat bagi bangsa dan negara.

“Bagi industri kehutanan seperti kami, keberlanjutan usaha dapat terbangun melalui sinergi aspek produksi yang ramah lingkungan serta pelestarian lingkungan itu sendiri… Untuk dapat terus berproduksi, kami harus senantiasa melakukan penanaman dan memelihara bentang alam (lansekap) ekosistem sekitar sesuai konsep pengelolaan hutan tanaman secara lestari. Itu yang mendorong kami mengajukan usulan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu kepada pemerintah.”
Ungkap Canecio P. Munoz

Cagar Biosfer GSK-BB yang berada di antara wilayah Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Siak. Pada 2004, SMF bersama mitra kerjanya — yang selama ini bertugas sebagai pemasok bahan baku utama bagi Asia Pulp&Paper (APP) — menyisihkan areal hutan produksi seluas 72.255 hektar sebagai koridor ekologis, sehingga kawasan Giam Siak Kecil dan Bukit Batu tergabung menjadi sebuah kawasan konservasi.

Hutan rawa gambut Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil seluas 84.967 hektare dan Suaka Margasatwa Bukit Batu seluas 21.500 hektare merupakan bagian dari “eco-region” hutan Sumatera yang sebelumnya telah diidentifikasi LIPI sebagai sebuah areal yang didiami sedikitnya 159 jenis burung, 10 jenis mamalia, 13 jenis ikan, 8 jenis reptil berikut 52 jenis tumbuhan langka dan dilindungi.

Kondisi tersebut melatarbelakangi inisiatif SMF menggabungkan dua kawasan tadi, sehingga tercipta areal inti cagar biosfer seluas 178.722 hektare. Sementara sebagian besar zona penyangga seluas 222.425 hektar di sekitar Cagar Biosfer GSK-BB terdiri atas hutan tanaman SMF dan mitra mereka yang menjadi kunci efektivitas perlindungan area inti.

Sementara pada bagian terluar terdapat zona transisi seluas 304.123 hektare yang menjadi areal kerjasama pengembangan model pembangunan berkelanjutan di bidang perkebunan, pertanian tanaman pangan, perikanan hingga pemukiman.

Ketiga zonasi yang ada di sana dikelola menggunakan pendekatan bentang alam yang didasarkan pada kebutuhan dan kondisi setempat. Zona penyangga berupa hutan tanaman diharapkan mampu menjamin kelestarian zona inti karena kawasan ini selalu mendapatkan pengawasan dan dikelola dengan baik oleh SMF.

Pada September 2008, usulan (nomination form) cagar biosfer berikut usulan rencana pengelolaannya diajukan ke UNESCO di Paris melalui Komite Nasional “Program Man and the Biosphere Indonesia”. Pada 18 Oktober 2008, Menteri Kehutanan beserta jajarannya juga melihat kesiapan di lapangan pasca pengajuan usulan ketika itu. Sementara gelaran Konferensi Perubahan Iklim PBB di Bali tahun 2007 silam telah menjadi wadah ketika untuk pertama kalinya usulan ini diperkenalkan kepada masyarakat internasional, katanya.

Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Departemen Kehutanan, Dr Haryadi Himawan, menilai pengukuhan cagar biosfer membuat daya tahan lingkungan di kawasan tersebut meningkat. Hal itu, katanya, berarti menjamin keberadaan dua suaka margasatwa yang ada di sana.

“Pengukuhan Cagar Biosfer GSK-BB oleh Council of the Man and the Biosphere Programme (MAB-ICC) UNESCO bukanlah sebuah puncak dan akhir, melainkan sebuah awal dari begitu banyak hal yang harus dilakukan seputar pelestarian keanekaragaman hayati,” katanya.

Namun, kata Haryadi, “Kehadiran cagar biosfer ini menunjukkan apresiasi dunia atas komitmen, determinasi, dan inovasi Sinar Mas dalam ikut melestarikan lingkungan, yang kita harapkan dapat menjadi warisan bagi peradaban Indonesia serta dunia.

—-

Selamat, akhirnya Bukit Batu sedang dan akan menjadi wisata Indonesia dan bahkan dunia.

@Sungai Pakning
Sumber : Dephut dan Kapanlagi

10 Komentar leave one →
  1. 09/08/2009 1:16 pm

    mantap tuh bos…biar dunia tahu. kalo pakning punya keistimewaan.
    url : http://www.injaney.blogspot.com

  2. 02/23/2010 1:53 am

    Biosfer tu dah terancam punah pun, ,
    PT. Surya Dumai sudah mulai menggali kanal di daerah tersebut..

    Pakning nak maju ?? Mimpi lah bang. . .

    • ricky marwansyah permalink
      03/08/2010 5:43 pm

      betul tu……kalau pemerintah kab.bengkgkalis tak tinjau ulang kegiatan oleh PT.SURYA DUMAI tu makin kacaulah kondisi alam d k.bukit batu n siak kecil.

  3. 02/23/2010 1:58 am

    Dengan adanya pembukaan lahan yang dikerjakan oleh pihak perusahaan PT. SURYA DUMAI dan PT. RIAU MAKMUR SENTOSA (RMS) yang berlokasi di Kec. Bukit Batu dan Kec. Siak Kecil, yang mengakibatkan lahan-lahan yang telah di kelola dan dikerjakan oleh masyarakat Tanjung Belit di klem dan digali kanal lebar 4 s/d 6 meter, oleh pihak perusahaan. Sedangkan selama ini untuk batas desa dan rambu-rambu belum ada, baik dari pihak perusahaan maupun dari pemerintah daerah. Masyarakat kami telah mengerjakan, mengolah lahan – lahan tersebut mulai tahun 1980-an dan sebagian telah memiliki surat.

    Kemudian yang ironisnya ada beberapa lahan yang pada tahun 1996 menjadi proyek dari pemerintah untuk masyarakat yaitu proyek P2RT yang luasnya 75 Ha dan kemudian diperkuat dengan sertifikat yang di keluarkan oleh pihak, Badan Pertanahan Negara (BPN) ikut juga terkena galian dari pihak perusahaan. Masyarakat Desa Tanjung Belit menolak masuknya perusahaan dan galian yang sedang dikerjakan sampai ada perundingan lebih lanjut. Masyarakat memohon kepada Bapak Bupati, DPRD, BPN, Dinas PMD, Dinas Kehutanan Bengkalis, agar dapat meninjau ulang izin dari pihak perusahaan. Selama ini tidak ada perusahaan yang turun ke desa kami untuk melakukan sosialisasi apalagi musyawarah. Kemudian dengan sepihak, perusahaan menggali kanal tanpa ada diketahui pemerintah desa setempat dan pihak kecamatan. Kami dari masyarakat Desa Tanjung Belit mohon perhatian Bapak Bupati Bengkalis dan pihak terkait lainnya agar membentuk tim khusus untuk menyusut perizinan yang di kantongi oleh perusahaan, kemudian kami memohon agar Bapak Bupati menurunkan langsung klaim perusahaan tersebut.

    Biosfer dah punah !!

  4. fewsg permalink
    05/14/2012 3:17 pm

    mantap ya……….

  5. 06/28/2013 7:01 pm

    After I originally commented I seem to have
    clicked the -Notify me when new comments are added- checkbox and from now on whenever a comment is added I get 4 emails with the same comment.
    There has to be a way you can remove me from that service?

    Many thanks!

Trackbacks

  1. Objek-Objek Wisata di Bukit Batu – Bengkalis « Sungai Pakning – Bukit Batu
  2. Potensi Bukit Batu Sebagai Sentral AgroBisnis Bengkalis « Sungai Pakning – Bukit Batu
  3. SELAMAT DATANG DI WORDPRESS KAMI HPMKB | hpmkbpekanbaru
  4. Pontensi Hutan Gayam | Bukit Batu | Sungai Pakning

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: