Skip to content

Penemuan Gunung Api Raksasa di Pantai Sumatera

05/31/2009

Kemunculan gunung api termasuk gunung yang baru ditemukan di perairan barat Sumatera tidak mungkin secara tiba-tiba. Demikian dijelaskan Direktur Pusat Penelitian Geologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr Iskandar Zulkarnain, mengomentari penemuan gunung raksasa tersebut.

“Ada proses panjang yang membentuk gunung api muncul, tidak mungkin tiba-tiba,” katanya, Jumat (29/5). Ia mencontohkan pembentukan kembali gunung api Krakatau di Selat Sunda yang membutuhkan waktu lebih dari 50 tahun setelah sempat meletus pada tahun 1883.

Iskandar mengatakan, pihaknya belum mendapat laporan resmi terkait temuan gabungan para pakar geologi Indonesia dan sejumlah negara asing tersebut. Namun, penemuan tersebut mengundang sejumlah pertanyaan.

Menurut dia, tanda-tanda keberadaan gunung api di perairan barat Sumatera seharusnya terdeteksi oleh satelit sebelumnya. “Seharusnya ada deteksi ya kan, tapi sejauh ini saya belum pernah mendapat informasi tentang keberadaan gunung api di perairan barat Sumatera khususnya di laut Bengkulu ini,” katanya.

Sementara itu, Kepala Seksi Geologi Badan Klimatologi dan Geofisika Bengkulu Dadang Permana mengatakan, di titik lokasi keberadaan gunung api tersebut tidak pernah terdeteksi adanya aktivitas vulkanik. Pihaknya belum dapat memastikan temuan tersebut.

“Bagi kami, ini masih sebatas hipotesa dan BMKG perlu melakukan penelitian lagi karena tidak pernah terdeteksi getaran vulkanik di titik 330 km arah barat Kota Bengkulu,” katanya.

Keberadaan gunung api raksasa ini dilaporkan sebagai hasil penelitian gabungan sejumlah lembaga, yaitu Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral CGG Veritas, serta Institut de Physique Globe) Paris. Gunung api tersebut diperkirakan berdiameter 50 km dan tinggi 4.600 meter dengan lokasi 330 km arah barat Kota Bengkulu.

**********

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan geologi, Bandung menilai penemuan gunung api raksasa setinggi 4.600 meter  merupakan gunung api terbesar di Indonesia.

“Gunung Kerinci yang tingginya sekitar 3.800 meter dan Gunung Semeru sekitar 3.600 meter kalah dengan gunung yang baru ditemukan di perairan Bengkulu tersebut. Kalau gunung ini memang benar gunung api, maka gunung ini merupakan gunung api terbesar di Indonesia,” kata Kepala PVMBG Badan Geologi, Bandung, Surono, di Jakarta, Jumat.

Lokasi gunung tersebut berada di Palung Sunda di Barat daya Sumatera, 330km dari Bengkulu, di kedalaman 5.900 meter dan puncaknya ada di kedalaman 1.280 meter dari permukaan laut serta memiliki diameter 50 km.

Menurut dia, para peneliti harus penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kepastian gunung merapi itu, seperti tingkat keaktifan magmanya, memiliki lubang pada bagian atasnya sebagai tempat untuk keluar letusan dan lainnya.

Menurut dia, bila gunung itu merupakan gunung merapi, maka sangat berbahaya bila meletus karena gunung yang berada di tengah laut itu bisa menimbulkan gelombang besar di permukaan laut, bahkan tsunami. Oleh sebab itu perlu ada perhatian serius dari pemerintah untuk mengantisipasi hal itu.

“Para peneliti juga harus melakukan pengawasan dan pemantauan mengenai kondisi gunung tersebut. Serta membuat peta rawan bencana di sekitar gunung itu, sehingga dapat mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.

Surono memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada para peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral CGG Veritas dan Institut de Physique Globe) Paris yang menemukan gunung api raksasa tersebut.

Ia memprediksi gunung api yang ditemukan itu sebelumnya pernah beberapa kali meletus, sehingga material-material letusannya membuat gunung itu semakin besar seperti sekarang ini.

Sebelumnya, Riset Kelautan BPPT, LIPI, Departemen ESDM dan CGGVeritas serta IPG (Institut de Physique du Globe) Paris menemukan adanya gunung api raksasa bawah laut dengan diameter mencapai 50km dan tinggi sampai 4.600 meter di 330km arah barat Kota Bengkulu.

“Gunung api ini sangat besar dan tinggi. Di daratan Indonesia tak ada gunung setinggi ini kecuali Gunung Jayawijaya di Papua,” kata Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam, BPPT, Yusuf Surachman kepada wartawan di Jakarta, Kamis (28/5).

Gunung ini diketahui memiliki kaldera yang menandainya sebagai gunung api, ia mengaku belum mengetahui tingkat keaktifan gunung api tersebut.

“Bagaimanapun gunung api bawah laut sangat berbahaya jika meletus,” katanya.

Survei yang menggunakan kapal seismik Geowave Champion canggih milik CGGVeritas itu merupakan yang pertama di dunia karena menggunakan streamer terpanjang, 15 km, dari yang pernah dilakukan oleh kapal survei seismik.

Tujuan dari survei tersebut untuk mengetahui struktur geologi dalam (penetrasi sampai 50km), meliputi Palung Sunda, Prisma Akresi, Tinggian Busur Luar (Outer Arc High) dan Cekungan Busur Muka (Fore Arc Basin) perairan Sumatera.

Sejak kejadian gempa dan tsunami pada akhir 2004 dan gempa-gempa besar susulan lainnya, banyak perubahan struktur di kawasan perairan Sumtera yang menarik minat banyak peneliti asing.

Tim ahli dari Indonesia, AS dan Perancis kemudian bekerjasama memetakan struktur geologi dalam untuk memahami secara lebih baik sumber dan mekanisme gempa pemicu tsunami menggunakan citra seismik dalam (deep seismic image)

Sumber : AntaraKompas,

10 Komentar leave one →
  1. wahyu am permalink
    05/31/2009 7:05 am

    kenapa ya baru sekarang diketahuinya😆

  2. rizqi permalink
    06/10/2009 8:47 am

    biasanya kalo ada aktivitas vulkanik di suatu tempat, akan disusul oleh aktivitas vulkanik di daerah disekitarnya, bener gak? apa ada hubungannya antara kemunculan gunung api baru tsb dengan aktifnya gunung kerinci di jambi ya?

  3. rizqi permalink
    06/10/2009 9:40 am

    dalam berita ini masih keliru mneggunakan istilah ‘gunung merapi’ padahal yang benar ‘gunung api’

    • nia permalink
      01/29/2010 12:42 pm

      zups…………..bener banget

  4. 07/28/2009 9:12 am

    kalo petugas di daerah belum mendeteksi mungkin saja, mungkin juga petugasnya tidak peduli dengan perubahan di wilayahnya, lebih menyibukkan diri dengan hal-hal lain. atau jangan-jangan alatnya yang jadul alias kunoeee??????

  5. Gloria Visella Handoko permalink
    09/05/2009 8:06 am

    Gmn y kalo meletus?Se-Indonesia ini bsa abis y?

  6. Arico permalink
    10/06/2009 11:42 am

    dampak dari gUnUNG RAKSasa apa tuch pak,.?
    nilai positif n nagatif nya pak,..????

  7. Amad permalink
    10/25/2009 9:22 pm

    Ayo, para penyelam-penyelam handal indonesia, tunggu apa lagi? dari pada mengira dari atas kan lebih baik terjun langsung. Tapi bisa nggak ya???? kan dalam banget….

  8. umma permalink
    01/29/2010 12:39 pm

    kira-kira nie bisa jadi salah satu objek wisata g’ yach………………………………..?

  9. yudi permalink
    07/16/2010 9:01 am

    kayana emang kiamat da deket kaleeeyeee,…….buruan tobat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: