Skip to content

Pertamina UP II Sungai Pakning

12/14/2008

Langkah trategis Sungai Pakning

      Kilang UP II di Sungai Pakning, berkapasitas produksi 50 ribu barel per hari. Memproduksi naptha, kerosene, ADO (Automotive Diesel Oil, solar), dan LSWR (Low Sulfur Waxy Residu). Kilang yang mulai beroperasi sejak akhir 1969 ini sedang berusaha meningkatkan nilai tambah produk kerosene menjadi bahan bakar pesawat (aviation turbine, avtur). Langkah ini dinilai sangat strategis. Paling tidak, mendukung suplai avtur Pertamina ke Pulau Batam dan Pekanbaru. Selain itu juga menambah margin bagi Kilang Sungai Pakning sendiri.

      Gerak UP II, untuk meningkatkan nilai tambah produk dari kerosene menjadi avtur, khususnya Kilang Sungai Pakning, menjadi jalan peningkatan kemampuan kilang. Memang baru tahap percobaan. Target produksinya sekitar 5.800 MBSD, merupakan langkah awal yang cukup strategis untuk ke depan, di mana permintaan terhadap kerosene akan semakin berkurang. Jumlah target produksi avtur yang akan direalisasikan (5.800 MBSD) dalam waktu dekat itu memang tidak terlalu menonjol dibandingkan kebutuhan Nasional yang terus meningkat.

 Apa sih hal yang menonjol dari percobaan produksi avtur di Kilang Sungai Pakning?

Tingkatkan Margin
      Saat ini produksi avtur dilakukan di Kilang Putri Tujuh Dumai, Kilang UP III Plaju-Sungai Gerong, Kilang UP IV Cilacap, dan Kilang UP V Balikpapan. Terus meningkat, tapi permintaan pasar justru lebih meroket lagi. Tak bisa dihindari, Pertamina harus mengimpor kekurangannya. Tahun 2004 saja, kekurangan avtur untuk konsumsi dalam negeri sekitar 37,6 persen dari seluruh kebutuhan.
      Tahun itu tingkat penjualan avtur mencapai 2.495.110 kiloliter. Sedangkan produksi akumulatif di semua kilang hanya 1.813.514 kiloliter. Ada kekurangan 681.596 kiloliter! Sedangkan tahun 2003, kekurangan mencapai 167.371 kiloliter. Kekurangan 9,7 persen. Artinya, kalau kita lihat dari data dua tahun itu (2003-2004), ada kecenderungan kebutuhan yang semakin tinggi.
      Seperti juga kebutuhan BBM jenis lain yang belum terpenuhi oleh tingkat produksi kilang dalam negeri, ketergantungan sebagian kebutuhan pada impor memang akhirnya harus diakhiri. Itulah sebab, adanya rencana investasi Pertamina (2006 – 2010) sebesar 18,758 juta dolar AS menjadi harapan adanya perbaikan di sisi infrastruktur.
      Seperti diketahui 10,48 juta dolar AS adalah untuk mengoptimalkan dan peningkatan kilang, pembangunan dua kilang BBM dan kilang petrokimia baru, serta. Serta 1,018 juta dolar AS untuk pengembangan bisnis BBM dan non BBM. Selebihnya untuk pengembangan bisnis hulu (6,31 juta dolar AS) dan penambahan 37 tanker armada milik (0,94 juta dolar AS).
      Dengan semangat perbaikan kemampuan itu langkah Kilang UP II di Sungai Pakning menjadi strtegis. Sekali lagi jangan dilihat dari jumlah rencana produksi yang tidak signifikan dengan jumlah kebutuhan avtur Nasional, tetapi geliat inovasinya yang bisa diapresiasi.
      Dari sisi sebuah signifikansi sebuah langkah, apa yang dilakukan Kilang Sungai Pakning — yaitu Tes Run Mode Avtur — tak berlebihan kalau dikatakan cukup strategis dan inovatif. Hal ini tak terlepas dari latar belakang dibuatnya proyek pengembangan kerosene menjadi avtur ini.
      Pihak Kilang Sungai Pakning menjelaskan, bahwa tingginya harga crude dunia seiring dengan rendahnya margin keuntungan produksi BBM membuat pekerja UP II di Sungai Pakning berpikir untuk meningkatkan margin pengolahan. Langkah tes run avtur yang dilakukan, ya bertujuan demi peningkatan margin.
      Lalu dilakukanlah komunikasi dengan fungsi Penelitian dan Laboratorium (Penlab), Divisi Enjiniring dan Penelitian, Direktorat Pengolahan, untuk mencoba mode avtur produksi Kilang UP II di Sungai Pakning. Tes run untuk membuktikan bahwa kolom destilasi T-1 dan T-3 Kilang Sungai Pakning pada tanggal 16 Mei 2006 dan 29 – 31 Mei 2006. Berdasarkan hasil tes run tersebut diketahui bahwa Kilang Sungai Pakning mampu memproduksi avtur dengan yield sekitar 12 persen.

Menangkap Peluang
      Manajer Penlab Suparlan bercerita, bahwa langkah uji coba produksi avtur di Kilang Sungai Pakning juga berkaitan dengan kebijakan Pemerintah di bidang energi yang hendak mengurangi pemakaian kerosene. Seperti diberitakan oleh banyak media massa, Pemerintah berketetapan hati untuk mengurangi pemakaian minyak tanah alias kerosene secara bertahap (2006 – 2012). Penarikan akan dimulai di wilayah DKI Jakarta.
      Seperti ditulis media massa tahun 2007 Pemerintah akan menghentikan pasokan 1,1 juta kiloliter minyak tanah dan menggantinya dengan gas Elpiji sebanyak 645.000 kg. Pada tahun 2008 Pemerintah melalui Pertamina akan menyetop pasokan bahan bakar itu sebanyak 1,5 juta kiloliter. Selanjutnya, 2009, akan ditarik lagi 2 juta kiloliter.
      Pada tahun 2010 diperkirakan akan meningkat menjadi enam juta kiloliter. Seterusnya, pada tahun 2011, pengurangan pasokan minyak tanah menjadi sekitar sembilan juta kiloliter, dan pada tahun 2012 menjadi 10 juta kiloliter. Kebijakan Pemerintah ini sebenarnya sejalan dengan kebijakan sebelumnya, baik dalam Kebijakan Umum Bidang Energi (KUBE) 1988 maupun Kebijakan Energi Nasional (KEN) 2003 yang telah menggariskan bahwa pemakaian briket batubara harus semakin didorong untuk menggantikan minyak tanah.
      Terlepas apakah kerosene atau minyak tanah akan diganti Elpiji atau briket batubara, yang jelas yang digantikan adalah kerosene! Minyak tanah!
Setidaknya Kilang Sungai Pakning yang memproduksi kerosene 16 persen dari seluruh produksinya, akan mengalihkan 16 persen alokasi produksi kerosene menjadi avtur. Dan faktanya yield-nya adalah 12 persen dari seluruh kapasitas produksi. Dengan demikian target produksi avtur oleh Kilang Sungai Pakning sekitar 12 % x 49.000 BBL = 5.800 MBSD.
      Artinya, Kilang UP II di Sungai Pakning telah melakukan langkah strategis, mengantisipasi semakin berkurangnya pemakaian kerosene. Sehingga satu jalan yang ditempuh adalah mengalihkan produksi kerosene menjadi avtur.

Antisipasi Kelebihan Kerosene
      Langkah Kilang UP II di Sungai Pakning ini sejalan dengan kebijakan korporat Pertamina untuk mengalihkan produksi kerosene ke avtur. ?Sama sekali tidak dibutuhkan biaya tambahan. Itu kan tianggal men-set kilangnya saja,? kata Direktur Pengolahan Suroso Atmomartoyo. Sementara itu mengenai kelebihan stok minyak tanah atau kerosene dijelaskan Kepala Divisi BBM Djaelani Sutomo kepada pers.
      Menurutnya dari 960.000 kiloliter stok kerosene Pertamina, yang dikonsumsi hanya 27.000 kiloliter per harinya. Sehingga stok kerosene mencapai 34,5 hari sampai 40 hari kebutuhan. Suatu kondisi stok yang berlebih. Padahal normal stok BBM itu sekitar 22 hari kebutuhan.
      Namun demikian, berlebihnya stok kerosene bukan berarti produksi di kilang akan dikurangi, karena menurut Djaelani Sutomo, pengurangan produksi di kilang bisa menyebabkan masalah bagi produk lainnya. Selain itu, lanjut Djaelani, Pertamina juga mempertimbangkan kemungkinan untuk mengekspor kembali sebagian minyak tanahnya. Tapi kemungkinan ini masih dalam tahap pengkajian.
      Produksi avtur terbesar itu di Kilang Dumai dan Kilang Balikpapan. Plaju juga memproduksi tapi kecil. Sungai Pakning nanti kecil juga,? kata GM UP II Agus Haryanto. Karena produksi avtur di Kilang Sungai Pakning baru tahap uji coba, GM UP II belum bisa memastikan seberapa besar produksi avtur dari kilang itu nantinya bagi upaya mengurangi impor.
      Yang sudah pasti, bisa menambah pendapatan bagi Kilang Sungai Pakning. ?Namun sampai sejauhmana kontribusi terhadap avtur nasional belum tahu,? kata Agus Haryanto menegaskan lagi.

Menambal Kekurangan
      Posisi geografis Sungai Pakning dan letak Riau lebih luas lagi cukup strategis. Dekat pantai dan dekat negara-negara tetangga, yaitu Singapura dan Malaysia. GM UP II Agus Haryanto lebih melihat langkah di Kilang Sungai Pakning sebagai upaya menambah margin.
      Hal ini disebabkan cost per barrel Kilang Sungai Pakning belum bisa ditandingkan dengan kilang-kilang Pertamina di tempat lain. Makanya pantas kalau Kilang UP II di Sungai Pakning pantas untuk menggeliat meningkatkan nilai tambah dan income. Karena kalau dibandingkan dengan kilang-kilang baru, cost per barrel-nya lebih tinggi, walaupun terhadap Rencana Kerja, cost per barrel-nya masih bagus.
      Untuk tahun 2006 sementara target kumulatif 0,7 dolar per barel, dan sampai Mei 2006 lalu terealisasi 0,6 dolar per barel. Jadi jangan bangga dulu kalau sudah mencapai 0,6 dolar per barel. Bisa saja di periode terakhir biaya itu melonjak. Mudah-mudahan masih bisa di bawah 0,7 dolar per barel,? kata Manajer Produksi BBM Kilang Sungai Pakning Yuyud Wahyuddin penuh harap.
      Ke depan, Kilang Sungai Pakning memiliki Visi 2010 yang diakronimkan ke dalam kata Bercahaya (bersih, cantik, harmonis, andal, dan terpercaya).
Penjabarannya, memang terlihat sangat normatif, tetapi kalangan Kilang Sungai Pakning sepertinya hendak membangun budaya kerja.

Misinya, tidak terlepas dari fungsi kilang sebagai bagian dari penugasan korporat.
      Dengan Visi Bersih Kilang Sungai Pakning menginginkan terciptanya budaya kerja yang dilandasi oleh nilai-nilai spiritual. Lalu memiliki citra positif ke dalam dan keluar. Sedangkan Cantik berarti adanya keselarasan, keserasian, dan keseimbangan, serta tertata dan tersistem? Kita tidak hanya hanya memikirkan kilang saja, tetapi juga lingkungan sekitar kilang,? kata Yuyud memberi contoh.
      Juga membangun suatu etika perusahaan terhadap lingkungan masyarakat. ?Kita berkepentingan supaya Sungai Pakning ini dicintai baik oleh pekerja dan keluarga maupun oleh masyarakat,? katanya.
      Dalam hal Visi Harmonis, diharapkan terjalinnya hubungan kerja yang saling melayani dan saling mengharagai. Mengembangkan terciptanya lingkungan kerja yang menumbuh-kembangkan kreativitas dan inovasi pekerja.
      Mengenai Visi Andal, Kilang Sungai Pakning bermimpi untuk semakin mampu memberikan jaminan terhadap pelanggan melalui kualitas pelayanan yang prima. ?Kualitas proses harus selalu ditingkatkan,? tegas Yuyud.
      Terakhir, untuk membangun Visi Ter-percaya adalah konsisten melaksanakan tata nilai dan etika bisnis perusahaan. Termasuk melaksanakan GCG yang akan menumbuhkan kepercayaan dari stakehol-ders dan akan meningkatkan upaya pencip-taan nilai (value creation).

Sumber : www.pertamina.com
Edition No. 7/THN XLI, Juli 2006     
Warta Utama

6 Komentar leave one →
  1. 05/19/2010 10:05 pm

    visi misi ny mana

  2. 08/15/2010 2:12 am

    semoga semakin sukses
    & menaik kan nama baik sei-pakning~`~

  3. 09/16/2011 8:53 am

    Proyek pengadaan / konstruksi pertamina penuh kebohongan serta kemunafikan, pejabat setingkat “lead” mengatur pekerjaan milik siapa, umumnya warga keturunan masih mendominasi semua pekerjaan, salah seorang rekanan pernah mengeluh… “pekerjaan itu sudah nyata milik saya, namun malah disuruh mundur, alasannya sudah milik si Anu, dan hal ini bukan cuma satu pekerjaan. Setelah diselidiki rupanya telah diberikan kepada teman istrinya yang tak lain adalah teman main tenis, ada juga pekerjaan lain yang sudah diberi kepada rekanan yang hobi menemaninya memancing. sempat beredar berita ini proyek untuk segi tiga cendana. yang lebih herannya lagi dia bukan “lead” beneran cuma pjs / Act saja…. hahaha (berita lain akan disambung pasti yang lebih seru lagi)

  4. 09/16/2011 9:24 am

    masih ada yang lebih seru, banyak rekanan mencari pekerjaan baik itu fisik atau pengadaan, setelah “menghadap” lead of …….., katanya pekerjaan sudah milik si acong, asiong, akong dan kong kong lainnya…. yang sangat beruntung adalah seorang penyanyi berstatus janda yang aktif ikut menyanyi setiap minggu di wisma pertamina malah sudah mengurus pekerjaan, padahal dia baru satu minggu masuk ke kilang pertamina sungai pakning…. Sungguh Terlalu….

  5. 09/16/2011 9:30 am

    Ada seorang oknum di procurrement… (bukan asli penduduk kab. bengkalis) inisial IR, semua pekerjaan pengadaan melalui meja dia, sayangnya untuk pribumi selalu dikesampingkan, bahasa dikedai kopi “klu untuk org dio cepat diurusnyo” inilah seorang sosok yang sangat dibenci rekanan pribumi, pernah di ekspose dimedia, namun berakibat sangat fatal.. dalam 1 tahun yang mengekspose tidak 1 pun pekerjaannya berjalan, namun pertamina masih betah mempertahankannya di pertamina sungai pakning.

  6. redo putra hr permalink
    04/23/2012 10:47 am

    membuka lowongan apa tidak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: