Dumai Express 10 Tenggelam di Karimun, 30 Tewas


(Ilustrasi : Ini adalah Dumai Express 18. Dumai Express 10 merupakan varian lebih lama dari Dumai Express 18)
Sebagian warga pesisir Timur Laut Riau (Dumai-Bengkalis-Sungai Pakning-Selat Panjang-Tj Balai Karimun-Batam) tentunya pernah menggunakan alat tranportasi laut Dumai Express ini untuk menyeberangi satu kota ke kota yang lain. Hal ini dikarenakan Provinsi Riau dan Provinsi Kepulauan Riau memiliki ribuan pulau, sehingga sistem transportasi utama adalah kapal laut selain angkutan darat pada umumnya.
Tragedi tenggelamnya kapal penumpang Dumai Ekspres 10 perairan Tanjung Balai Karimun saat berangkat dari Batam menuju Dumai pada 22 Novemver 2009 pagi. Tepatnya di Pulau Tukong Iyu, Kabupaten Karimun, Provinsi Riau Kepulauan, Minggu pagi. Selain karena gelombang yang cukup tinggi, faktor kelebihan penumpang (overload) diduga menjadi faktor utama tenggelamnya kapal penumpang ini. Kapal Dumai Express 10 yang tenggelam ini membawa lebih dari 273 orang, padahal kapasitas maksimum 273 orang. Hal ini terungkap dari jumlah penumpang yang selamat sebanyak 243 orang (kompas), sementara jumlah korban tewas yang berhasil dievakuasi telah mencapai 30 orang dan angkanya mungkin bertambah(kompas update).
Sementara manifest penumpang hanya sebanyak 213 orang. “Manifes memang realitanya sering berbeda. Saya akan cek lagi,” –Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Laut Dephub, Sunaryo (Kompas)
Selain faktor kelayakan usia, human error dan cuaca/alam, banyak kecelakaan transportasi disebabkan oleh faktor kelebihan muatan. Dari pernyataan Dirjen Perhubuhungan Laut Dephub Sunaryo bahwa realitas seringnya penumpang overload merupakan cerminan dari buruknya kedisiplinan aparat, pengusaha serta kesadaran penumpang itu sendiri.
Dari kasus ini, jelas manifest yang dilaporkan hanya 213 orang, padahal jumlah penumpang sesungguhnya lebih dari 273 orang. Manifest merupakan dokumen perjalanan yang berisi data jumlah penumpang, muatan dan kru. Kelebihan penumpang serta data manifest palsu merupakan kesalahan fatal dan merupakan pelanggaran berat. Namun, sudah menjadi rahasia pula bahwa adakalanya aparat Dephub mendapat fee dari pengusaha kapal atas kebaikan ‘mau’ memalsukan manifest atau malas mengecek antara data dan fakta sesungguhnya.
Detik-Detik Dumai Express 10 Tenggelam
Selain faktor alam dan kemungkinan kelebihan penumpang, tenggelamnya kapal motor Dumai Express 10 juga disebabkan oleh kecerobohan juru mudi (kapten) kapal. Salah satu penumpang yang selamat, Sofyan Efendi mengaku bahwa sebelum tenggelam, kapal dihantam gelombang besar secara bertubi-tubi lebih kurang sebanyak 10 kali, namun juru mudi tidak memperlambat laju kapal.
Sofyan Efendi (SE) yang memahami sedikit ilmu pelayaran menyatakan bahwa juri mudi melakukan kesalahan. “Tidak seharusnya gelombang itu dilawan, akibatnya lambung kiri kapal bocor dan kapal miring ke kiri. Meski kondisi sudah miring juru mudi tetap memacu laju kapal, sehingga kapal miring ke kiri dan posisinya berada di sisi kiri Pulau Tukong Iyu mendekati jalur pelayaran internasional,” ungkap SE.
Hingga akhirnya mesin kapal mati karena air laut mulai masuk, posisi kapal sempat kembali stabil beberapa saat sebelum tenggelam. “Saya orang terakhir yang turun ke sekoci, dengan jelas saya melihat kapal tenggelam bukan dari haluan melainkan buritan,” katanya.
SE menuturkan jumlah penumpang yang selamat didalam sekoci yang ditumpanginya lebih kurang sebanyak 65 orang. “Kami mengapung lebih kurang 3,5 jam, hingga akhirnya diselamatkan oleh kapal petugas mercu suar,” ujarnya. Dia berharap Dirjen Perhubungan Laut mengusut tuntas kecelakaan laut itu. Selain itu dia yakin jumlah life jacket dan peralatan keselamatan di kapal tidak sebanding dengan jumlah penumpang.
“Ada manipulasi manifest yang dilakukan agen kapal, saya pegang bukti dan mengalami sendiri. Kami sekeluarga menumpang sebanyak empat orang, tiket yang diberikan memang empat lembar, tapi yang dicatat nama saya sendiri,” paparnya. Pada manifest juga tercatat jumlah penumpang sekitar 213 orang, tapi dia yakin jumlah penumpang melebihi kapasitas. “Penumpang over load,” tuturnya.
Saleh, warga Teluk Sitimbul, Kecamatan Meral yang berlokasi tidak jauh dari tempat kejadian perkara melihat jelas kapal itu tenggelam. “Saat itu saya berada di Perairan KSS, malah saya sempat berkeinginan untuk menyelamatkan korban. Tapi karena ada yang menyuruh balik, makanya niat itu saya urungkan, karena gelombang besar sedangkan kapal saya kecil,” paparnya.
Dia juga membenarkan penuturan Syofyan Efendi. “Memang kapal itu berkali-kali dihantam gelombang sebelum tenggelam namun juru mudi tidak memperlambat laju kapal, hingga akhirnya posisi kapal berada di sebelah kiri Pulau Tukong Iyu. Kapal itu tenggelam mulai dari buritan,” tuturnya. Kebanyakan korban diselamatkan oleh para nelayan yang berada di sekitar lokasi dan kapal patroli milik TNI AL.
Turut berbela sungkawa atas meninggalnya para penumpang. Semoga menjadi perhatian utama pengusaha kapal, pemerintah (Dephub) untuk tidak main-main dengan manifest. Semoga ini menjadi momentum meningkatkan kesadaran penumpang atas bahayanya overload (penumpang yang berlebih) dalam transportasi.
Hmmm…. bener banget apa yang dikatakan SE itu, saya kelahiran Tg. Balai K, sejak lahir sampai dewasa kapal laut yang menjadi moda transportasi antar pulau kami. Udah gak keitung lagi berapa kali naik Dumai Express and the gank..
Kejadian manipulasi manifest sudah menjadi rahasia umum. terkadang saat membeli tiket saat kita sebutkan nama kita contohnya “Suhaimi”, maka tidak peduli jelas atau tidak si agen penjual langsung aja meletakkan nama yang kebetulan kedengaran di kuping tololnya. kalo memang dia dengar jelas, maka nama kita di ticket akan ditulis secara benar, tapi sering sekali mereka nulis salah dengan ejaan “Suani” atau “Muhaimi” atau yang nyerempet2 gitu, tanpa mencocokkan dengan KTP.
apa hubungannya dengan kecelakaan ini? oya tentu ada! jika terjadi kecelakaan maka nama yang salah tersebut akan terbaca di manifest penumpang. tentu saja keluarga korban yang melihat nama tersebut bernapas lega sebab tidak ada keluarganya yang menjadi korban, tetapi sesungguhnya nama yang salah tersebut adalah nama anggota keluarganya yang menjadi korban.
Overload penumpang akibat kurangnya disiplin dari petugas Dephub bersangkutan. Betul sekali kalimat diatas mengatakan petugas mendapat ‘fee’ dari pengusaha kapal. Mana ada orang yang mau rugi!
Dumai Express and the gank memang langganan musibah. waktu jaman saya SMP dulu, salah satu feri mereka menabrak pelabuhan apung di Tg. Balai K sehingga peyok, namun tiada korban.
Pernah juga kebakaran terjadi disalah satu feri mereka beberapa tahun silam. Sudah seharusnya pemerintah mencabut ijin operasi perusahaan pelayaran ini.
Seharusnya Dumai Express belajar dari pengalaman Ferry Sentosa yang karam saat pelayaran dari Telaga Punggur, Batam menuju ke Tg. Pinang dahulu. Kejadiannya persis sama ketika lunas fery tersebut terbelah dua dihantam ombak di perairan Lobam, Tg. Pinang
Terima kasih berkenan memberi tanggapan.
Dan menambahkan kasus-kasus lain yang terjadi di Riau.
pak / ibu admin update lah berita tentang kec bukit batu /sungai pakneng
bio kami yang jauh ne bisa tau sejauh mano perkembangan kampoong kito
Terima kasih akan ditindaklanjutin.
turut brduka cita….